Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas, menyulut kekhawatiran global akan potensi eskalasi yang lebih luas. Di tengah bayang-bayang kehancuran, dua tokoh bangsa Indonesia—Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono—menyuarakan seruan damai yang penting untuk direnungkan dunia.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam sebuah seminar perdamaian yang diadakan di kantor Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, menyoroti peran sentral dua tokoh penting dalam krisis Timur Tengah: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. “Yang bisa menentukan penyelesaiannya adalah Trump dan Netanyahu,” ujar JK tegas.
Menurutnya, konflik sebesar apa pun sejatinya dapat diselesaikan melalui dialog. Perang, katanya, hanyalah jalan buntu yang menghadirkan penderitaan. JK menegaskan, diplomasi harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi krisis, bukan aksi militer yang menambah luka.

Baca Juga : Klasemen F1 2019 Usai Bottas Menangi GP Australia
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kesempatan terpisah, SBY menyatakan bahwa masa depan dunia—dari segi perdamaian dan keamanan global—saat ini berada di tangan lima tokoh kuat: Donald Trump, Benjamin Netanyahu, Vladimir Putin, Ali Khamenei, dan Xi Jinping. Mereka, menurut SBY, memegang peran sentral yang bisa membawa dunia pada kedamaian… atau kehancuran.
“Mereka harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.Sejarah mencatat, banyak perang yang lahir dari ambisi dan ego para pemegang kekuasaan,” tutur SBY. Ia mengingatkan bahwa perang dunia ketiga masih bisa dicegah, selama para pemimpin dunia tidak akan membahayakan kesalahan perhitungan.
Ketegangan Iran-Israel sendiri pecah pada 13 Juni lalu, setelah Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi strategis Iran, termasuk fasilitas nuklir dan kawasan sipil. Serangan ini diperkirakan setidaknya 606 warga Iran dan melukai lebih dari 5.000 orang. Iran tak tinggal diam. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel, menyebabkan sedikitnya 29 orang dan melukai ribuan lainnya.
Untungnya, setelah 12 hari konflik yang intens, kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Perjanjian gencatan senjata itu berlaku sejak 24 Juni, memberikan harapan tipis bahwa jalan dialog masih terbuka.
Namun dunia tidak bisa sekadar berharap. Seruan dari JK dan SBY seharusnya menjadi bahan refleksi penting, bahwa penyelesaian konflik global memerlukan pemimpin yang bijak, bukan pemimpin yang larut dalam ego dan emosi. Di saat api menyala dengan mudah dinyalakan, justru suara-suara damai seperti inilah yang harus lebih keras terdengar.
Kita hidup di zaman di mana satu keputusan bisa memicu malapetaka global. Maka kini, lebih dari sebelumnya, dunia membutuhkan keberanian—bukan untuk bernyanyi, melainkan untuk berdamai.




